Setiap Muslim dan Muslimah wajib mematuhi Rukun Islam dan Rukun Iman.
RUKUN ISLAM.
Ada 5 perkara yaitu:
1. Mengucapkan "Dua Kalimat Shahadat".
2. Mengerjakan Sholat Wajib Lima waktu sehari semalam.
3. Membayar Zakat.
4. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
5. Menunaikan Haji bagi yang mampu.
RUKUN IMAN.
Ada 6 perkara yaitu:
1. Beriman kepada Allah S.W.T.
2. Beriman kepada Malaikat - malaikat Allah.
3. Beriman kepada Kitab - Kitab Allah.
4. Beriman kepada Rasul - rasul Allah
5. Beriman kepada Qodo dan Qodar.
Hantu menurut Islam
"Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku"
Ada orang yang mempercayai adanya hantu, ada pula yang tidak percaya.
Sebagian besar orang awam beranggapan bahwa hantu memang ada, namun
dalam pemahaman yang salah.
Hantu dan tragedi horor faktanya memang ada karena ada alam lain selain
alam nyata ini, yaitu alam ghaib. Di alam ghaib ada beberapa jenis
penghuni, salah satunya adalah jin. Ada jin baik dan jin jahat. Jin
jahat bekerja sebagai pengganggu manusia sehingga manusia dibuat
terkejut lalu ketakutan. mereka membuat hal-hal aneh dan menakutkan,
diantaranya adalah tragedi horor.
Dari sekian banyak jenis hantu, hantu yang sepertinya paling ditakuti masyarakat adalah hantu orang mati.
Sebagian orang awam beranggapan bahwa hantu adalah jelmaan roh orang
mati, khususnya orang mati yang teraniaya atau kecelakaan. Fakta tentang
hantu adalah jelmaan orang mati tidak bisa dibenarkan .
Menurut ajaran Islam, roh-roh orang mati itu disimpan disuatu tempat.
Roh orang Mu’min disimpan di suatu tempat bernama Illiyyin, sebagaimana
firman Allah SWT dalam surat Al-Muthaffifin ayat18 yang artinya:
”sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam ada di Illiyin”.
Adapun roh orang kafir berada di tempat bernama Sijjin, sebagaimana yang
tercantum dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 7 yang artinya:
”dan sesungguhnya kitab orang-orang durhaka itu (tersimpan) dalam Sijjin”.
Roh orang mati dijaga di tempatnya sampai hari kiamat, tidak ada istilah gentayangan atau jelma-menjelma.
Islam tidak menolak kewujudan makhluk halus, malah perkara ghaib seperti
kewujudan makhluk halus wajib dipercayai kerana Rukun Iman itu sendiri
terdiri dari perkara-perkara ghaib yang wajib diimani. Mengatakan
makhluk halus tidak wujud bermakna melakukan satu iktikad yang
merosakkan akidah. Malaikat, Jin dan beberapa makhluk halus yang lain di
sebut dengan jelas dalam Al-Qur’an. Ini akan saya jelaskan di dalam
posting lain. Perbuatan sihir juga di sebut dengan jelas oleh Allah
dalam Al-Qur’an dan ia memang mampu dilakukan oleh mereka-mereka yang
melampaui batas. Menolak kewujudan mereka bermakna menolak ayat-ayat
Allah dalam Al-Qur’an. Menolak ayat Al-Qur’an bermakna kita beriktikad
bahawa kandungan Al-Qur’an itu tidak betul. Dengan iktikad ini, kita
mencampakkan diri kita dalam perbuatan tidak beriman kepada Allah
Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Ketika Rasulullah s.a.w. menyabdakan :
“Tidak ada penularan, Tidak ada yang tabu di bulan Safar, dan tidak ada
hantu mayat gentayangan.” Maka bertanya seorang Arab Dusun, “YA
Rasulullah! Bagaimana seandainya sekelompok unta yang sihat dipadang
pasir, kemudian didatangi seekor unta yang berkudis, kemudian unta yang
sihat itu, berkudis pula semuanya?” jawab Rasulullah.,“Siapakah penular
yang pertama-tamanya?” (Hadis Riwayat Imam Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak ada
penularan, tidak ada mayat gentayangan yang menjadi hantu kuburan, tidak
ada binatang tetentu muncul yang menyebabkan hujan, dan tidak ada tabu
di bulan Safar” (Hadis Riwayat Imam Muslim).
Dari Jabir r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak ada
penularan, tidak ada pengaruh atau tanda bahaya suara burung, dan tidak
ada hantu.” (Hadis Riwayat Imam Muslim).
Hadis di atas jelas menunjukkan Rasulullah s.a.w. sedang memberikan
penjelasan mengenai beberapa perkara tahyul dan khurafat yang menjadi
kepercayaan Arab Jahilliah pada satu ketika dulu. Pertama yang
dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. ialah, tidak semua penyakit itu
penyakit berjangkit. Jika ada penyakit berjangkit sedang menular,
terdapat satu hadis daripada Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan amalan
kuarantin yang harus dipatuhi penduduk setempat yang mengalami penyakit
tersebut dan penduduk luar yang dilarang masuk ke tempat tersebut.
Rasulullah s.a.w. juga memberikan penjelasan terhadap kepercayaan karut
yang diperkatakan oleh golongan Arab Jahiliah satu ketika dulu seperti
siulan burung-burung tertentu yang dikatakan mereka sebagai alamat atau
petanda kejadian tidak elok bakal berlaku. Rasulullah s.a.w. mendidik
mereka dengan hadis ini yang mengatakan semua perkara tersebut adalah
tidak benar dan karut. Begitu juga dengan kepercayaan Arab Jahiliah satu
ketika dulu yang mengatakan bahawa mayat seseorang itu boleh kembali
hidup dan menjadi hantu yang bergentayangan (merayau-rayau) di kawasan
perkuburan. Dengan ini jelas sekali dari Hadis baginda Rasulullah s.a.w.
bahawa apa yang dikatakan hantu itu tidak wujud sama sekali. Ini kerana
kebanyakan dari mitos yang menyatakan asal usul hantu-hantu dengan
berbagai-bagai nama ini adalah karut marut amalan jahiliah dan animisme
belaka.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hantu orang mati itu
bukanlah jelmaan roh orang yang mati dan tidak ada hubungannya sama
sekali dengan orang yang sudah mati. Semua itu hanyalah ulah setan dan
jin yang bandel. Sebagai manusia yang beriman dan berakal, kita harus
jeli terhadap asumsi dan prediksi alam ghaib itu, agar kita tidak
terkecoh oleh tipuan mereka.Dari keterangan di atas dapat disimpulkan
bahwa hantu orang mati itu bukanlah jelmaan roh orang yang mati dan
tidak ada hubungannya sama sekali dengan orang yang sudah mati. Semua
itu hanyalah ulah setan dan jin yang bandel. Sebagai manusia yang
beriman dan berakal, kita harus jeli terhadap asumsi dan prediksi alam
ghaib itu, agar kita tidak terkecoh oleh tipuan mereka.
Lalu Bagaimana Penjelasan tentang acara misteri tentang ada orang
kecelakaan di suatu tempat lalu ada sesosok hantu dengan ciri2 orang
yang mati disitu?, Menurut pandangan Islam, sebenarnya alasan kenapa
hantu itu atau yang keraskuan itu bisa tahu tentang yang terjadi kepada
orang yang kecelakaan itu, karena setan atau jin itu memang ada pada
saat kejadian tersebut, oleh karena itu sangat jelas dia mengetahui
kejadian tersebut. Dan dengan bermodalkan semua itu jin atau setan mulai
menjerumuskan manusia dengan cara "menyamar" menjadi orang yang
mengalami kecelakaan tersebut, dan mulai menggoyahkan iman manusia agar
menyeleweng dari ajaran agama islam. Diantaranya, dengan memuja-muja
barang-barang atau benda yang dianggap keramat, dsb.
‘Ali bin ‘Abi Thalib RA adalah menantu Rasulillah SAW yang mendapat nama kehormatan (kuniyyah) Abu Turab (Bapaknya tanah) dari Rasulillah SAW. Abu Turab adalah panggilan yang paling disenangi oleh ‘Ali karena nama kehormatan ini kenang-kenangan berharga dari Nabi SAW yang mulia. Ia dibai’at menjadi Khalifah pada hari Jumat tanggal 25 Dzul-Chijjah tahun 35 Hijriyyah (4 Juni 656 M).
“Niscaya besok pagi bendera ini akan saya berikan pada seorang lelaki yang telah diberi kemenangan karena usahanya. Ia dicintai Allah dan Utusan Allah dan utusan Allah juga mencintainya”.
Pada masa perang Khaibar bulan Shafar tahun tujuh Hijriyah dia telah menjadi tokoh utama bagi umat Islam pada umumnya. Setelah sabda yang menggiurkan tersebut terucap, para shahabat membicarakan siapa orang beruntung yang akan mendapatkan kehormatan tersebut. Setelah itu mereka semua berambisi menjadi tokoh agung tersebut.
Di suatu pagi yang indah semua sahabat termasuk Umar yang tidak pernah ingin menjadi pemimpin, berkeinginan untuk terpilih. Ternyata Ali bin Abi Talib RA lah yang menerima kesempatan besar tersebut. Ali bin Abi Talib RA juga dianugerahi karena telah membunuh Talha ibn’ Uthman di perang Uhud pada bulan Syawal tahun 3 (tiga) Hijriyyah (Januari 625 M)
خرج طلحة بن عثمان صاحب لواء المشركين وقال: يا معشر أصحاب محمد إنكم تزعمون أن الله يعجلنا بسيوفكم إلى النار ويعجلكم بسيوفنا إلى الجنة، فهل أحد منكم يعجله سيفي إلى الجنة أو يعجلني سيفه إلى النار ؟ فبرز إليه علي بن أبي طالب، فضربه علي فقطع رجله، فسقط وانكشفت عورته، فناشده الله والرحم فتركه، فكبر رسول الله، صلى الله عليه وسلم، وقال لعلي: ما منعك أن تجهز عليه ؟ قال: إنه ناشدني الله والرحم فاستحييت منه –
Talha bin ‘Uthman pembawa bendera kaum musyrik berkata,” Wahai para golongan sahabat Muhammad, engkau yang berkeyakinan bahwa Tuhan akan mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian, dan mempercepat kamu ke surga melalui pedang kami. Sekarang siapakah yang sanggup mempercepat diri kalian ke Surga karena pedang kami atau mempercepat kami ke neraka dengan pedang kalian? Ali akhirnya menerima tantangan tersebut, bergerak cepat memukul mematahkan kakinya. Ia jatuh hingga terlihat auratnya karena kain yang ia kenakan tersingkap, dan memohon kepada Ali agar takut kepada Allah dan meminta-minta menjadi sahabatnya, lalu Ali meninggalkannya. Tiba-tiba Nabi SAW memekikan takbir demi melihat pemandangan tersebut dan bertanya,”Apa yang membuatmu tidak menghabisinya? Ali menjawab,”Ia memohon-mohon padaku untuk memperhatikan Allah dan keluarga kami, sehingga saya merasa enggan”.[Al-Kamil fit-Tarikh 1 / 294]
Thabrani murid Achmad bin ‘Ali Abu al-Abbar murid Umayyad murid Uthman ibn’ Abdir-Rahman murid Isma’il ibn Rashid bercerita tentang kematian ‘Ali ibn’ Abi Talib RA , yang bertepatan dengan hari Jum’at 17 Ramadan tahun 40 Hijriyyah (24 January 661M): Konon termasuk Hadits Ibnu Muljam dan shahabat-shabatnya yang dilaknat Allah ialah: Memang ‘Abdur-Rahman bin Muljam, Al-Barku bin ‘Abdillah dan ‘Amer bin Bakr At-Taimi mengadakan pertemuan di Makkah untuk membahas tentang ihwal masyarakat umum dan mencela perbuatan tokoh-tokoh besar Muslimiin. Pembicaraan tersebut berkembang ke arah pembahasan kepedulian mereka pada penduduk kota Nahar yang dulu pernah diperangi ‘Ali RA. Mereka berkata, “Demi Allah kita ini belum berjasa sebanyak tokoh-tokoh (Khawarij) yang telah mendahului kita. Tokoh-tokoh pendahulu kita telah menjadi dai yang mengajak orang-orang agar beribadah pada Tuhan mereka, dan di dalam beribadah mereka tidak takut caci-makian orang mencaci-maki. Hendaklah kita-kita ini mengorbankan diri-kita dengan cara mendatangi dan memastikan tokoh-tokoh besar Muslimiin terbunuh, sebagai upaya agar penduduk-kota kita tidak dendam dan agar dendam pendahulu kita terbalas. Ibnu Muljam yang konon sebagai penduduk Mesir berkata, “Sayalah yang membereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Ali RA.” Al-Barku bin ‘Abdillah berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi Mu’awiyyah bin Abi Sufyan.” ‘Amer bin Bakr At-Tamimi berkata, “Sayalah yang akan membereskan urusan kalian berupa menghabisi ‘Amer bin ‘Ash.”
Tiga orang yang terancam kematiannya ini tokoh besar ummat Islam yang saat itu namanya menggetarkan dunia karena saat itu zaman kejayaan Islam:
’Ali bin Abi Thalib RA sebagai Khalifah yang sangat agung.
Mu’awiyyah sebagi Gubernur yang sangat berpengaruh karena pernah menjadi sekretaris Rasulillah SAW.
‘Amer bin ‘Ash orang yang pernah diangkat sebagai panglima perang oleh Abu Bakr RA, bahkan tergolong Umara’ul-Ajnad (semacam jendral besar).
Mereka bertiga membuat persekongkolan dan perjanjian rahasia yang diikat dengan sumpah demi Allah tak seorangpun dari mereka mem-batalkan rencananya sehingga berhasil membunuh sasaran mereka masing-masing atau mati karena rencana gila tersebut. Mereka bertiga mengambil pedang untuk diberi racun, dan membulatkan perjanjian bahwa masing-masing mereka bertiga akan menyerang korban mereka tanggal 17 Ramadhan. Mereka bertiga pergi ke kota yang dihuni oleh sasaran mereka masing-masing.
Ibnu Muljam Al-Muradi mendatangi sahabat-sahabatnya berada di kota Kufah, namun ia menyembunyikan rencananya karena takut akan ada yang mengetahuinya. Ibnu Muljam juga mendatangi teman-temannya dari keluarga besar Taimir-Rabab, yaitu sebuah keluarga besar yang pada zaman perang An-Nahar banyak yang mati terbunuh. Keluarga besar Taimir-Rabab membicarakan dan mengasihani keluarga mereka yang meninggal dalam peperangan tersebut. Kebetulan saat itu muncul seorang wanita bernama Qatham binti Sachnah dari keluarga besar Taimir-Rabab yang memendam dendam pada ‘Ali karena telah membunuh ayah dan saudara laki-lakinya dalam perang Nahar tersebut. Konon kecantikan Qatham binti Sachnah luar biasa (sempurna). Karena kecantikan Qatham binti Sachnah lah maka ia lupa dengan tujuan semula (tersihir). Ibnu Muljam melamar Qatham binti Sachnah. Qatham binti Sachnah menjawab, “Saya tidak akan menikah sehingga kau bisa mengobati sakit-hatiku.” Ibnu Muljam bertanya, “Sebetulnya apa yang kau inginkan?.” Ia menjawab, “Tiga ribu dinar dan budak laki-laki dan biduanita dan bunuhlah ‘Ali RA!.” Ibnu Muljam berkata, “Berarti ini sebagai maskawin untukmu. Namun apa betul kamu ingin ‘Ali dibunuh?.”
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Ayyasy Al-Muradi berkata:
“وَلا مَهْرَ أَغْلَى مِنْ عَلِيٍّ
“Sebetulnya tidak ada maskawin yang lebih mahal dari pada membunuh ‘Ali bin Abi Thalib RA”.
Ia menjawab, “Betul!. Pastikan pembunuhan tersebut pada waktu-bulan-ghurrah (sekitar tanggal 15)!. Jika kau berhasil maka kita berdua puas, selanjutnya kita berdua hidup berbahagia penuh manfaat. Namun jika kau yang mati terbunuh, maka yang di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya.” Ibnu Muljam berkata, “Sebetulnya kedatanganku kemari memang bertujuan membunuh dia.” Ia menjawab, “Jika tekadmu telah bulat kabarilah saya, saya akan menyuruh orang agar membantu dan mendukungmu.” Akhirnya Qatham perintah lelaki dari keluarganya yang menyanggupinya bernama Wardan. Ibnu Muljam mendatangi lelaki (shahabat karibnya) dari keluarga besar Asyja’ bernama Syabib bin Najdah untuk berkata, “Bukankah kau mau mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat?.” Ia menjawab, “Apa maksudmu?.” Ibnu Muljam menjawab, “Membunuh ‘Ali RA.” Ia menjawab, “Kau ini gila.
لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِدًّا
– Niscaya kau telah melakukan kegilaan yang nyata. Apa mungkin kau bisa membunuh dia?.” Ibnu Muljam berkata, “Saya akan bersembunyi di waktu sahur. Jika ia telah keluar rumah untuk mengimami shalat shubuh, maka saat itu juga kita serang dan kita bunuh. Jika dalam rencana ini kita selamat maka kita puas dan dendam kita telah terbalas, namun jika kita mati maka pahala di sisi Allah jauh lebih baik dari pada dunia dan perhiasan penghuninya. Ia berkata, “Kau memang harus kubantu. Tapi kalau rencana ini ditujukan pada selain ‘Ali niscaya urusannya lebih ringan bagiku. Karena saya tahu sepenuhnya bahwa jasa dia di dalam Islam sangat besar. Ia juga termasuk shahabat Nabi SAW yang awal. Terus terang dalam hal ini saya merasa keberatan. Ibnu Muljam berkata, “Bukanakah kau sendiri tahu bahwa dia yang memerangi penduduk Nahar yang tekun beribadah dan shalat?.” Ia menjawab, “Betul.” Ibnu Muljam berkata, “Kita membunuh dia karena membalaskan saudara-saudara kita yang dia bunuh saat itu.” Setelah Syabib bin Najdah menyetujuinya, mereka bertiga segera berpamitan, “Kami semua telah mufakat akan membunuh ‘Ali RA,” pada Qatham yang saat itu sedang i’tikaf di dalam Masjid Agung. Qatham menjawab, “Jika kalian telah siap berangkat datanglah kemari lagi!.” Ibnu Muljam datang untuk berkata pada Qatham, “Saya dan dua teman saya telah berjanji akan bahwa masing-masing kami akan membunuh seorang tokoh besar.” Tak lama kemudian Qatham minta kain sutra untuk dibalutkan pada mereka bertiga, (mungkin untuk memberi mereka support).
Mereka bertiga mengambil pedang mereka masing-masing lalu selanjutnya berangkat menuju depan pintu yang biasanya dipergunakan keluar oleh ‘Ali RA. Akhirnya ‘Ali keluar untuk mengimami shalat shubuh sambil berkata, “Shalat shalat.” Syabib bin Najdah bergerak cepat menyerang ‘Ali dengan pedang, namun pedangnya menghantam gawan pintu atau ornament. Ibnu Muljam bergerak cepat memukul ujung kepala ‘Ali dengan pedang.
Wardan berlari cepat pulang ke rumahnya; dikejar anak laki-laki ibunya. Lelaki tersebut memasuki rumah Wardan di saat Wardan sedang melepas kain sutra dan meletakkan pedangnya. Lelaki tersebut bertanya, “Ada apa dengan kain sutra dan pedang ini?.” Wardan terpaksa berterus terang padanya. Lelaki tersebut bergegas pulang ke rumah untuk mengambil dan menebaskan pedangnya hingga Wardan mati.
Syabib melarikan diri ke arah pintu-gerbang-pintu-gerbang kota Kindah dikejar masya. Syabib roboh bersimbah darah karena kakinya dipedang dan dibanting oleh ‘Uwaimir dari Chadhramaut. Ketika masya pengejar Syabib telah makin dekat; saat itu Syabib telah menguasai pedangnya. ‘Uwaimir membiarkan Syabib kabur dan memasuki kerumunan masya dari pada dirinya terkena serangannya.
Ibnu Muljam jatuh saat melarikan diri dari kejaran lelaki dari Hamdan yang biasa dipanggil Aba Adama karena kakinya dipatahkan dengan pedang oleh lelaki tersebut. ‘Ali mendorong punggung
جَعْدَةَ بن هُبَيْرَةَ بن أَبِي وَهْبٍ
(Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahb) agar mewakili mengimami jamaah shalat shubuh; sebagaian jamaah berlarian dari segala penjuru untuk menyerang Ibnu Muljam.
Sejumlah orang melaporkan bahwa Muhammad bin Chunaif berkata: “Demi Allah, di malam ‘Ali bin Abi Thalib dipedang; saat itu saya shalat bersama lelaki-lelaki kota tersebut di dalam Masjid Agung tersebut, yaitu di dekat pintu-keluar rumah ‘Ali menuju Masjid. Di antara mereka ada yang sedang berdiri, ada yang sedang rukuk, ada yang sedang sujud. Mereka tak bosan-bosan melakukan shalat sejak awal hingga akhir malam. Tiba-tiba ‘Ali keluar pintu untuk mengimami shalat shubuh sambil menyerukan, “Shalat shalat.” Saya sendiri tidak tahu apakah lebih dulu ia mengucapkan kalimat tersebut ataukah duluan kulihat pedang-pedang mengkilap. Saya mendengar:
“الْحُكْمُ للَّهِ ، لا لَكَ يَا عَلِيُّ وَلا لأَصْحَابِكَ
Tiada hukum kecuali kekuasaan Allah, bukan hakmu ya ‘Ali, dan bukan hak shahabat-shahabatmu”.
Lalu kulihat pedang berkelebat. Lalu kulihat masya berdatangan. Saya mendengar ‘Ali RA perintah, “Jangan sampai lelaki itu lepas!.” Sejenak kemudian masya dari segala penjuru berlari cepat mengejarnya. Saya berada di dalam lokasi tersebut hingga Ibnu Muljam tertangkap dan dimasukkan ke rumah ‘Ali bin Abi Thalib RA.
Saya memasuki rumah ‘Ali RA mengikuti orang-orang. Tiba-tiba saya mendengar ‘Ali bin Abi Thalib RA berkata,
“النَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، إِنْ هَلَكْتُ فَاقْتُلُوهُ كَمَا قَتَلَنِي
“Jiwa dibalas dengan jiwa. Jika saya mati maka bunuhlah dia sebagaimana memedangku!. Namun jika saya masih hidup, maka telah punya pandangan sebaiknya dia diapakan?”.
Di saat Ibnu Muljam dibawa masuk ke rumah ‘Ali; ‘Ali bertanya, “Ya musuh Allah, bukankah saya telah berbuat baik padamu?, bukankah saya telah memperlakukan kamu dengan baik?.” Ia menjawab, “Betul.” ‘Ali bertanya, “Lalu apa yang mendorongmu melakukan ini?.” Saya telah mengasah pedangku selama empat puluh shubuh lalu berdoa agar Allah membunuh sejelek-jelek makhluq-Nya dengan pedang ini.” ‘Ali berkata, “Saya yakin kamu akan mati terbunuh dengan pedang ini, dan kamu termasuk makhluq Allah paling jelek.” Konon dua tangan Ibnu Muljam diikat erat hingga belikat di depan Chasan.
Tiba-tiba putri ‘Ali bernama Ummu Kultsum menangis, “Hai musuh Allah, ayahku tidak apa-apa; sementara kamu akan dihinakan oleh Allah.” Ibnu Muljam menjawab, “Kenapa kau menangis?. Demi Allah pedang itu kubeli seharga seribu (dinar), dan telah kuberi seribu racun. Kalau pukulan pedangku ini melukai seluruh penduduk kota ini pasti mereka tidak mampu bertahan hidup satu jam pun. Namun ayahmu masih juga hidup hingga saat ini”. ‘Ali berkata pada Chasan, “Jika aku bertahan hidup, aku telah mempunyai perhitungan. Namun jika aku mati karena pukulan pedang ini, maka pukullah dengan pedang sekali saja, jangan kau siksa. Sebab sungguh aku pernah mendengar Rasulallah SAW melarang menyiksa meskipun pada anjing buas”. Sebuah riwayat menjelaskan bahwa Jundub bin ‘Abdillah memasuki rumah ‘Ali untuk memohon, “Jika kami kehilangan tuan, maka kami akan berbai’at pada Chasan.” ‘Ali bin Abi Thalib RA menjawab, “Yang ini saya tidak perintah dan tidak melarang, kalian yang lebih tahu”.
Ketika ‘Ali bin Abi Thalib RA telah wafat; Chasan perintah agar Ibnu Muljam dibawa masuk ke rumahnya. Ibnu Muljam berkata ketika telah masuk ke rumah Chasan, “Bolehkah saya minta sesuatu?, demi Allah sejak dulu jika saya bersumpah pada Allah pasti saya laksanakan. Saya pernah bersumpah pada Allah akan membunuh ‘Ali dan Mu’awiyyah, atau saya mati saat menyerang mereka berdua. Jika kau setuju lepaskanlah saya agar membunuh dia. Saya bersumpah pada Allah jika saya gagal membunuhnya, saya akan menyerahkan tanganku pada tanganmu.”
Sepertinya Ibnu Muljam yakin sepenuhnya bahwa Chasan sangat benci Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, sehingga ia menawarkan jasa membunuh Mu’awiyyah agar Chasan mau melepaskannya.
Chasan menjawab, “Demi Allah tidak bisa, atau kamu akan menyaksikan neraka.” Chasan RA perintah agar Ibnu Muljam diajukan untuk dibabat kepalanya dengan pedang. Selanjutnya mayat tersebut dimasukkan dalam bawari (tempat). Tak lama kemudian masya membakarnya dengan api. Sebelum itu ‘Ali bin Abi Thalib RA telah berpesan, “Ya keluarga besar ‘Abdul-Muthalib, jangan sampai terjadi suatu saat nanti saya menjumpai kalian berkecimpung dalam darahnya Muslimiin hanya karena beralasan ‘ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh, ini kami lakukan karena Amirul-Mu’miniin dibunuh. Ingat, tidak boleh ada yang dibunuh kecuali orang yang telah membabatkan pedangnya padaku!.”
Luar biasa, di saat kemarahan ‘Ali bin Abi Thalib di puncak, ia masih bisa berbicara dengan arif dan bijaksana. Sebetulnya wasiat terakhir sebelum wafatnya panjang dan indah luar biasa. Pantaslah jika Rasulullah pernah bersabda,
“يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“Ia cinta Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya cinta dia”.
" Sang Khalifah Abu Bakar As Sidiq "
Abu
Bakar bin Abu Quhafah, turunan bani Taim bin Murrah, bin Kaab, bin
Luai, bin Kalb Al-Qurasyi. Pada Murrah bertemulah nasabnya dengan Rasul.
ibunya Ummul Khair Salma binti Sakhr bin Anrir, turunan Taim bin Murrah
juga . Dia lahir pada tahun kedua dari tahun gajah, jadi dua tahun
lebih tua Rasulullah daripadnya. Sejak mudanya telah masyhur budinya
yang tinggi dan perangai- nya yang terpuji. Dia sanggup menyediakan
segala bekal rumah- tangganya dengan usahanya sendiri. Sebelum
Rasulullah diutus, persahabatan mereka telah karib juga.
Tatkala
telah ditetapkan beliau menjadi Nabi, maka Abu Bakarlah laki-laki
dewasa yang mula-mula sekali mempercayainya. Rasulullah paling sayang
dan cinta kepada sahabatnya itu, kerana dia adalah sahabat yang setia
dan hanya satu-satunya orang dewasa tempatnya mesyuarat di waktu
pejuangan dengan kaum Quraisy sangat hebatnya.
Tiap-tiap
orang besar mempunyai kelebihan sendiri, yang akan diingat orang bila
menyebut namanya. Abu Bakar masyhur dengan kekuatan kemahuan, kekerasan
hti, pemaaf tetapi rendah hati, dermawan dan berani bertindak lagi
cerdik.
Di
dalam mengatur pemerintahan, meskipun tidak lama, masyhur siasatnya
yang mempunyai semboyan keras tak dapat dipatahkan, lemah lembut tetapi
tak dapat disenduk. Hukuman belum dijatuhkan sebelum pemeriksaan
memuaskan hatinya, sebab itu diperintahkan- nya kepada wakil-wakilnya di
tiap-tiap negeri supaya jangan tergesa-gesa menjatuhkan hukum.
Salah
menghukum seseorang hingga tidak jadi terhukum, lebih baik daripada
salah hukum yang menyebabkan yang tidak bersalah sampai terhukum.
Meskipun sukar hidupnya, pantang benar baginya mengadukan halnya kepada
orang lain.
Tidak
ada orang yang tahu kesusahan hidupnya, kecuali beberapa orang
sahabatnya yang karib yang senantiasa memperhatikan dirinya, sebagai
Umar. Setelah dia diangkat menjadi Khalifah, beberapa bulan dia masih
rneneruskan pemiagaannya yang kecil itu. Tetapi kemudian ternyata rugi,
sebab telah menghadapi urusan negeri sehingga dengan permintaan orang
banyak, pemiagaan itu iberhentikannya dan dia mengambil kadar belanja
tiap hari daripada wang negara.
Jadi Khalifah
Rasulullah
memegang dua jabatan, pertama menyampaikan kewajiban sebagai seorang
pendakwah. Kedua bartindak selaku ketua kaum Muslimin. Kewajiban pertama
telah selesai seketika dia menutup mata, tetapi kewajiban yang kedua,
menurut partimbangan kaum Muslimin ketika itu perlu disambung oleh yang
lain, kerana suatu umat tidak dapat tersusun persatuannya kalau mereka
tidak mempunyai pemimpin. Sebab itu perlu ada gantinya (khalifahnya).
Belum
lagi Rasulullah dikebumikan, telah timbul dua macam pendapat. Pertama
ialah menentukan pangkat Khalifah itu di antara kaum keluarga Rasulullah
yang terdekat.Pendapat pertama ini terbagi dua pula. Pertama
rnenentukan pangkat Khalifah itu dalam persukuan Rasulullah. Kedua
hendaklah ditentukan di dalam rumahtangganya yang sekarib-karibnya. Di
waktu dia menutup mata adalah orang yang paling karib kepadanya saudara
ayahnya; Abbas bin Abdul Muttalib dan anak saudara ayahnya Ali dan Aqil,
keduanya anak Abu Thalib. Kelebihan Ali daripada Abbas dan Aqil ialah
kerana dia menjadi menantu pula dari Rasulullah, suami dari Fatimah.
Kelebihan Abbas ialah dia waris yang paling dekat kepada beliau. Artinya
jika sekiranya tidaklah ada beliau meninggalkan anak dan isteri, maka
Abbas itulah yang akan menjadi ashabah (waris yang menerima sisa harta)
yakni kalau harta Rasulullah boleh diwariskan.
Pendapat
kedua: Khalifah hendaklah orang Ansar. Setelah Rasulullah wafat,
berkumpulah kepala-kepala kaurn Ansar di dalam sebuah balairung
kepunyaan bani Saidah, balk Ansar pihak Aus mahupun Ansar dari persukuan
Khazraj. Maksud mereka hendak memilih Saad bin Ubadah menjadi Khalifah
Rasulullah, sebab dialah yang paling terkedahapan dari pihak kaum Ansar
ketika itu.
Apa
lagi Saad sendiri telah berpidato kepada mereka yang menganjurkan
bagaimana keutamaan dan kemuliaan kaum Ansar, terutama dalam membela
Rasulullah dan mempertahankan agama Islam, sehingga beroleh gelar Ansar,
artinya pembela, tidak ada orang lain yang berhak menjabat pangkat itu
melainkan Ansar. Perkataannya itu sangat mendapat perhatian dari
hadirin, semuanya setuju. Tetapi salah seorang di antara yang hadir
bertanya: Bagaimana kalau saudara-saudara kita orang Quraisy tidak
setuju, dan sekiranya mereka kemukakan alasan bahwa merekalah kaum
kerabat yang karib dan ahli negerinya, apa jawab kita? Seorang Ansar
menjawab saja dengan cepat: Kalau mereka tidak setuju, lebih baik kita
pilih saja seorang Amir dari pihak kita dan mereka pun memilih pula Amir
dari pihaknya, dan kita tidak mahu dengan aturan yang lain.
Saad
membantah sangat pendapat itu, dia berkata: Itulah pangkal kelemahan.
Berita permesyuaratan itu lekas sampainya kepada orang-orang besar dalam
Muhajirin, sebagai Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan lain-lain. Sebentar
itu juga dengan segera mereka pergi ke balairung itu. Baru saja sampai
Abu Bakar terus berpidato: Allah Taala telah memilih Muhammad menjadi
RasulNya, membawa petunjuk dan kebenaran. Maka diserunyalah kita kepada
Islam, dipegangnya ubun-ubun kita semuanya dan dipengaruhinya baiat
kita.
Kamilah
kaum Muhajirin yang mula-mula memeluk Islam, kamilah keluarga
Rasulullah, dan kamilah pula suatu kabilah yang boleh dikatakan menjadi
pusat perhubungan semua kabilah di Tanah Arab ini, tidak ada satu
kabilah pun yang tidak ada perhubungannya dengan kami. Dan kamu pula,
kamu mempunyai kelebihan dan keutamaan. Kamu yang membela dan menolong
kami, kamulah wazir-wazir besar kami di dalam pekeriaan besar agama ini,
dan wazir Rasulullah, kamulah saudara kandung kami di bawah lindungan
Kitabullah, kamu kongsi kami dalam agama, baik di waktu senang apa lagi
di waktu susah. Demi Allah, tidak ada kebaikan yang kami dapati,
melainkan segala kebaikan itu kamu pun turut menanamnya. Kamulah orang
yang paling kami cintai, paling kami muliakan, dan orang-orang yang
paling patut takluk kepada kehendak Allah mengikut akan suruhNya.
Janganlah
kamu dengki kepada saudara kamu kaum Muhajirin, sebab kamulah sejak
dahulunya orang yang telah sudi menderita susah lantaran membela kami.
Saya percaya sungguh, bahwa haluan kamu belum berubah kepada kami, kamu
masih tetap cinta kepada Muhajirin. Saya percaya sungguh, bahwa nikmat
yang telah dilebihkan Tuhan kepada Muhajirin ini tidak akan kamu hambat,
saya percaya sungguh bahwa kamu tidakkan dengki atas ini: Sekarang saya
serukan kamu memilih salah seorang daripada yang berdua ini, iaitu Abu
Ubaidah atau Umar, keduanya saya percaya sanggup memikulnya, dan
keduanya memang ahlinya.
Setelah
selesai pidato Abu Bakar itu, maka berdirilah Khabbab bin Al-Munzir
berpidato pula:Wahai sekalian Ansar, pegang teguh hakmu, seluruh manusia
di pihakmu dan membelamu, seorang pun tidak ada yang akan berani
melangkahi hakmu, tidak akan diteruskan orang suatu pekerjaan, kalau
kamu tak campur di dalam. Kamu ahli kegagahan dan kemuliaan, kaya dan
banyak bilangan, teguh dan banyak pengalaman, kuat dan gagah perkasa.
Orang tidak akan melangkah ke muka sebelum melihat gerak kamu. Kamu
jangan berpecah, supaya maksud kita jangan terhalang. Kalau mereka tidak
hendak memperhatikan iuga, biarlah mereka beramir sendiri dan kita
beramir sendiri pula.
Mendengar
itu Umar lalu menyambung pembicaraannya: Jangan, itu sekali-kali jangan
disebut: Tidak dapat berhimpun dua kepala dalam satu kekuasaan. Khabbab
berdiri kembali:Sekalian Ansar! Pegang teguh hakmu jangan undur, jangan
didengarkan cakap orang ini dan kawan- kawannya, lepas hakmu kelak.
Hebat sekali pertentangan Umar dengan Khabbab. Dengan tenang Abu Ubaidah
tampil ke muka dan berkata: Kaum Ansar! Ingatlah bahwa kamu yang
mula-mula menjadi pembela dan penolong, rnaka ianganlah kamu pula yang
mula-mula menjadi pemecahan dan penukar. Dengan tangkas Basyir bin Saad
tampil ke muka, dia seorang yang terpandang dalam golongan Ansar dari
Aus: Wahai kaum Ansar, memang, demi Allah, kita mempunyai beberapa
kelebihan dan keutamaan, di dalam pejuangan yang telah ditempuhi oleh
agama ini. Tetapi ingatlah, pekerjaan besar itu kita lakukan bukanlah
lantaran mengharap yang lain, hanyalah semata-mata mengharapkan redha
Allah dan taat kepada Nabi kita, untuk penunjukan diri kita
masing-masing kepada Tuhan!
Sebab
itu tidaklah patut kita me- manjangkan mulut menyebut-nyebut jasa itu
kepada manusia, jangan diambil menyebut-nyebut jasa itu untuk peningkat
dunia. Ingatlah bahwa Allah telah memberi kita kemuliaan dan pertolongan
bukan sedikit. Ingat pula bahwa Muhammad itu terang dari Quraisy,
kaumnya lebih berhak menjadi penggantinya mengepalai kita. Demi Allah,
saya tidak mendapat satu jalan untuk menentang mereka pada pekejaan yang
telah terang ini. Takutlah kepada Allah, jangan bertingkah dengan
saudara-saudara kita Muhajirin, jangan berselisih! Majlis tenang!
Ketika
itu berkatalah Abu Bakar: Ini ada Abu Ubaidah dan Umar, pilihlah mana
di antara keduanya yang kamu sukai dan baiatlah! Dengan serentak
keduanya membantah:Tidak, tidak. Demi Allah, kami tidak akan mahu
menerima pekerjaan besar ini selama engkau masih ada, engkaulah orang
Muhajirin yang lebih utama, engkaulah yang berdua saja dengan dia di
dalam gua ketika terusir, engkaulah yang ditetapkannya menjadi gantinya
sembahyang seketika dia sakit, ingatlah bahwa sembahyang itu
seutama-utama agama orang Islam! Siapakah yang akan berani melangkahimu
dan memegang pekerjaan ini…? Tadahkan tanganmu, kami hendak membaiatkan
engkau!
Lalu
Umar mengambil tangannya dan membaiatnya, setelah itu mengikut Abu
Ubaidah, diiringi oleh Basyir bin Saad. Basyir dari golongan Ansar
persukuan Aus, Saad bin Ubadah dari persukuan Khazraj, Aus jauh lebih
kecil persukuannya daripada Khazraj. Kalau sekiranya jadi pekerjaan
Khalifah diberikan kepada Ansar, tentu Aus selamanya tidak juga akan
mendapat giliran kerana kecilnya. Ini kelak akan mendatangkan fitnah
juga dalam negeri Madinah, menimbulkan permusuhan zaman jahiliyah.
Inilah yang ditimbang oleh Basyir ketika berpidato itu.
Demi
melihat Basyir membaiat, maka berduyun-duyunlah anggota Aus yang lain
mem- baiat Abu Bakar. Melihat itu, maka anggota-anggota Khazraj pun
telah terpengaruh pula oleh.semangat pertemuan itu, kesemuanya tampil ke
muka membaiat Khalifah yang tercinta itu, sehingga Abu Ubaidah yang
duduk bersandar ke dinding kerana tidak boleh berdiri lantaran demam,
hampir terpijak. Adapun Ali bin Abu Thalib, ia tidak hadir di situ,
lantaran sedang menjaga jenazah Rasulullah, dan ketidak-hadirannya itu
menjadi alasan pula baginya untuk tidak turut membaiat. Melihat ramai
pihak yang telah datang berduyun-duyun membaiat Abu Bakar, maka bani
Hasyim pun tidaklah dapat mengelakkan diri lagi, apalagi setelah mereka
mengerti bahwa khalifah itu bukanlah sama dengan pangkat kenabian.
Insaflah
mereka bahwa perkara ini bukan perkara urusan keluarga, tetapi urusan
siapakah orang yang paling mulia di sisi Nabi, padahal mereka semuanya
memang mengakui akan keutamaan Abu Bakar Apakah lagi suatu kelebihan
yang lebih utama daripada meniadi wakil Rasulullah bersembahyang di
waktu sakitnya. Kalau Rasulullah sendiri telah percaya kepadanya dalam
urusan dunia, iaitu memerintah umat, Ali sendiri pun akhimya mem-
baiatnya juga, iaitu beberapa waktu setelah wafat isterinya Fatimah
binti Rasulullah itu.
Pidato Abu Bakar
Setelah
selesai orang membaiat itu, Abu Bakar pun berpidatolah, sebagai
sambutan atas kepercayaan orang banyak kepada dirinya itu, penting dan
ringkas:Wahai manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini,
tetapi bukanlah aku orang yang lebih baik daripada kamu. Maka jika aku
lelah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku. Tetapi kalau aku
berlaku salah, tegakkanlah aku kembali. Kejujuran adalah suatu amanat,
kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada
sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik daripadanya.
Orang yang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan
daripada si kuat akan haknya, Insya Allah. Janganlah kamu suka
menghentikan jihad itu, yang tidak akan ditimpa kehinaan. Taatlah
kepadaku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi kalau aku
langgar perintahNya, tak usahlah aku kamu taat dan ikut lagi. Berdirilah
sembahyang, moga- moga rahmat Allah meliputi kamu.
Tentera Usamah
Bukanlah
urusan baiat yang sulit itu saja bahaya yang menimpa umat Islam sewafat
Rasulullah. Tetapi baru saja tersiar khabar kematian itu ke seluruh
benua Tanah Arab bergeraklah orang-orang munafik yang hendak mencari
keuntungan diri sendiri, timbullah golongan kaum murtad dan Nabi-nabi
palsu, semuanya hendak memberontak melepaskan diri daripada persatuan
Islam yang baru tegak itu. Sedang kaum Muslimin sendiri ketika itu di
dalam susah besar dan kemasyghulan lantaran kematian Nabi.
Kaum
pemberontak itu baru saja memeluk Islam, mereka belum tahu hakikat
agama, masuknya ke agama hanya dipengaruhi gerakan ramai, dan segan
kepada kekuasaan Nabi. Tentu saja setelah Nabi wafat mereka hendak
belot. Ada satu golongan pula yang sudi mendirikan sembahyang, tetapi
tidak hendak mengeluarkan zakat lagi. Demikian besar bahaya yang sedang
mengancam, sedikit pun tidak kelihatan perubahan muka Abu Bakar. Ada
orang mengatakan kepadanya supaya orang-orang yang tidak sudi
mengeluarkan zakat itu tak usah diperangi, kerana mereka masih sudi
sembahyang. Tetapi dengan tegas beliau berkata: Tidak, penderhaka yang
hendak memperbedakan sembahyang dengan zakat itu mesti kuperangi juga,
walau saya akan dihambat dengan ikatan sekalipun.
Tetapi
sebelum mengatur persiapan memerangi pemberontak- pemberontak itu, Abu
Bakar lebih dahulu hendak menyempurnakan angkatan perang di bawah
pimpinan Usamah yang usianya masih terlalu muda, baru kira-kira 17
tahun. Dia diangkat oleh Rasulullah menjadi kepala perang, tetapi
pejalanannya diundurkan lantaran kematian Rasulullah. Banyak ketua-ketua
Quraisy menjadi perajurit di bawah perintahnya. Demi setelah Rasulullah
wafat, Umar meminta supaya pengiriman Usamah itu diundurkan saja kerana
banyak yang lain yang lebih penting, atau tukar dengan kepala tentera
yang lebih tua.
Dengan
gagah dia mendekati Umar dan menunjukkan kuasa dan kekerasannya kepada
sahabatnya itu: Celaka engkau, wahai anak si Khattab, Rasulullah sendiri
yang mengangkat dia, belum lama lagi dia terkubur, engkau menyuruh saya
mengubah perintahnya? Pemberangkatan Usamah itu dilangsungkan juga. Dia
pergi ke tempat perhentian perajurit Usamah untuk melepaskan mereka.
Ketika dia memberikan pesannya yang penting-penting kepada Usamah,
Usamah di atas kenderaannya dan beliau berjalan kaki. Biarlah hamba
turun ke bawah dan paduka naik ke atas kenderaan ini, kata Usamah.
Tidak, jawab beliau, Belumlah akan mengapa jika kakiku kena debu
beberapa saat di dalam menegakkan jalan Allah. Setelah itu dimintanya
kalau boleh Usamah mengizinkan Umar tinggal di Madinah, tidak jadi pergi
berperang, kerana Umar perlu benar baginya untuk teman di dalam
mengatur siasat negeri. Maka permintaan itu dikabulkan oleh Usamah.
Tidaklah
mahu Khalifah itu memerintahkan kepada ketua perang yang telah
diserahinya pimpinan itu supaya Umar jangan dibawa, melainkan
dimintanya. Ketika mereka akan berangkat itu beliau berpidato: Jangan
khianat, jangan mungkiri janji, jangan dianiaya bangkai musuh yang telah
mati, jangan dibunuh anak-anak, orang kua dan perempuan. Jangan
dipotong batang kurma, jangan dibakar dan jangan di-tumbangkan
kayu-kayuan yang berbuah, jangan disembelihi saja kambing, sapi dan
unta, kecuali sekadar akan dimakan. Kalau kamu bertemu dengan suatu kaum
yang telah menyisihkan dirinya di dalam gereja-gereja hendaklah
dibiarkan saja.
Jika
engkau bertemu dengan suatu kaum yang bercukur tengah-tengah kepalanya
dan tinggal tepinya sebagai lingkaran, hendaklah perangi! Kalau diberi
orang makanan hendaklah bacakan nama Allah seketika memakannya. Hai
Usamah, berbuatlah apa yang diperintahkan Nabi kepadamu di negeri
Qudhaah itu, dan jangan engkau lalaikan sedikit pun perintah-perintah
Rasulullah. Setelah dilepaskan tentera itu di Jaraf, beliau kembali ke
Madinah.
Usamah
pun berangkat dikepungnyalah negeri Qudhaah itu, empat puluh hari
lamanya pertempuran hebat dengan musuh, maka dia pun kembali dengan
kemenangan. Tentera ke Qudhaah ini bukan sedikit memberi kesan kepada
musuh-musuh yang lain, timbul perkataan, kalau sekiranya kaum Muslimin
tidak mempunyai ke- kuatan, tetu mereka tidak akan mengirim tentera ke
negeri Qudhaah lebih dahulu sebelum menaklukkan yang lain. Akan
huru-hara di segala pihak yang telah ditimbulkan oleh kaum murtad itu,
yang agaknya bagi orang lain boleh mendatangkan kekusutan fikiran, oleh
beliau ditunggu saja dengan tenang ketika yang balk. Ditunggunya Usamah
pulang, kerana di sana terletak sebahagian besar kekuatan.
Abu Bakar As-Shiddiq Ra.,Sahabat Rasulullah SAW yang pertama memeluk Islam.
Setelah
kembali dengan kemenangan- nya, maka Usamah dan tenteranya disuruhnya
istirahat, kerana beliau hendak menyelesaikan lebih dahulu kekusutan
yang ditimbulkan oleh kaum Absin dan Dhabyaan di luar Madinah, yang
mencuba hendak memberontak pula. Pimpinan kota Madinah diserahkan kepada
yang lain dan beliau sendiri pergi menaklukkan kedua kaum itu kembali,
hingga tunduk. Setelah itu barulah diatumya tentera untuk mengalahkan
kaum-kaum perusuh pemberontak itu. Tentera itu disuruh ke Dzul Qisah,
kira-kira 10 batu dari Madinah, menghadap ke Najd. Di sanalah dibaginya
11 buah bendera kepada 11 orang kepala perang:
1.
Kepada Khalid bin Al-Walid, pergi memerangi Thulaihah bin Khuwailid
Al-Asadi di negeri Bazaakhah. Kalau telah selesai di sana, teruskan
mengalahkan Malik bin Nuwairah di negeri Batthaah.
2. Ikrimah bin Abu Jahal, memerangi Musailamah di Yamamah.
3. Di belakang Ikrimah disusuli oleh tentera Syurahbil bin Hasanah.
4. Al-Muhajir bin Abu Umaiyah ke Yaman, mengalahkan Al-Aswad Al-Ansi.
5. Huzaifah bin Mihsan mengalahkan negeri Daba di Uman.
6. Arfajah bin Hartsamah ke negeri Muhrah.
7. Suwaid bin Mukrin ke Ti~Mmah di Yaman.
8. Al-Ala bin Al-Hadhramiy ke negeri Bahrein.
9. Thuraifah bin Hajiz ke negeri bani Sulaim dan Hawazin.
10. Amru bin Al-Ash ke negeri Qudhaah.
11. Khalid bin Said ke tanah-tanah tinggi Syam.
Dengan
hati yang teguh dan kesetiaan kepala-kepala perang itu, di dalam masa
yang tidak berapa lama, seluruh pemberontakan dan huru-hara itu, yang
ditimbulkan oleh beberapa orang yang mengakui dirinya jadi Nabi, atau
yang hendak mencari keuntungan diri, me- mecahkan persatuan agama, telah
dapat disapu bersih, itulah salah satu daripada kemuliaan yang tak
dapat dilupakan oleh tarikh tentang diri Khalifah Rasulullah itu.
Menaklukkan Parsi
Setelah
selesai huru-hara di dalam negeri itu, Mhalifah Rasulullah menghadap ke
luar negeri, menaklukkan negeri Parsi. Untuk itu telah diangkatnya
kepala perang besar yang masyhur Saifullah Khalid bin Al-Walid. Kalau
kelak maksud ini berhasil, perjalanan boleh di- teruskannya ke
batas-batas Hindustan. Untuk pembantunya diangkat Iyadh bin Ghanam,
masuk dari utara Iraq. Penyerang Khalid telah berhasil masuk di negeri
Parsi, sejak dari pinggir sungai Fblrat, sampai ke Ubullah, melinkungi
Syam, Iraq dan Jazirah, demikian juga sebelah timur sungai Furat. Di
beberapa tempat pahlawan besar itu telah bertempur dengan
tentera-tentera Parsi, Rumawi dan Arab yang masih belum masuk kepada
persatuan besar ini. Namanya kian menakutkan musuh.
Namanya
lebih dakulu telah menggegarkan tempat yang belum dimasukinya. Kalau
suatu negeri ditaklukkannya, maka di sana diangkatnya seorang amir yang
akan mengatur kharaj (cukai) dari ahli zimmah. Namanya sangat dipuji
oleh musuhnya sebab orang tani dan pertaniannya tidak pernah digangunya
melainkan dipeliharanya. Lantaran itu jikalau dia masuk ke negeri Arab
yang masih di bawah bendera (protectorat) Parsi, orang di sana lebih
suka diperintahnya dan belot dari pemerintahan yang lama, sedang agama
tidak diganggu. Sebab orang Arab di sana memeluk agama Masihi. Kalau
terjadi perang landing, menjadi kehinaan besar baginya kalau perang itu
hanya bertegang urat leher dari jauh menghabiskan tempoh, dia lebih suka
kepada permainan pedang, bertanding kepahlawanan, terutama dengan
kepala-kepala kaum itu. Sebab dengan demikian, tempoh perang dapat
disingkat- kan. Temannya Iyadh telah dapat menguasai Daumatul Jandal,
sampai ke Iraq. Di Hirah kedua kepala perang yang gagah itu bertemu.
Menaklukkan Syam
Setelah
itu Abu Bakar mengirim surat kepada penduduk Makkah, Thaif, Yaman dan
sekalian negeri Arab, sampai ke Najd dan seluruh Hejaz disuruh bersiap
untuk mengatur suatu bala tentera besar, akan melakukan suatu peperangan
yang besar, iaitu menaklukkan negeri Syam, pusat kerajaan Rumawi pada
masa itu. Mendengar seruan itu orang pun bersiap. Sebagian besar kerana
mengharapkan bertempur mempertahankan agama, dan tentu tidak kurang pula
yang mengharapkan harta rampasan.
Kata
Ath-Thabari: Tiap-tiap ketua perang itu telah ditentukan tempat tinggal
mereka sebelum negeri itu dimasuki, buat Abu Ubaidah telah ditentukan
Hems, buat Yazid bin Abu Sufyan negeri Damsyik, buat Syurahbil bin
Hasanah negeri Urdan (Jordan), buat Amru bin Al-Ash dan Alqamah bin
Al-Munzir negeri Palestin, Kalau telah selesai, maka Alqamah akan
meneruskan perjalanan ke Mesir.
Peperangan
yang paling masyhur hebat dan besamya ketika penaklukan Syam itu ialah
peperangan Yarmuk, iaitu suatu sungai besar. Di sanalah orang Rumawi
dapat membutikan bahwa musuhnya memang besar dan kekuatan mereka sendiri
tidak ada lagi. Sejak waktu itulah berturut-turut jatuh negeri Quds,
Damsyik, Hems, Humaat, Halab dan lain-lain. Sedianya peperangan ini
tidaklah akan berakhir begitu me- nyenangkan. Kerana telah berhari
berpekan peperangan di Yarmuk itu dilangsungkan, belum juga berakhir
dengan balk. Sebab tiap-tiap ketua perang itu mengendalikan tenteranya
sendiri-sendiri, kepala perang besar untuk menyatukan komando tidak ada.
Padahal orang Rumawi telah bermaksud hendak keluar dari benteng mereka
me- lakukan serangan besar-besaran.
Waktu
iku datanglah Khalid bin Al-Walid dengan tiba-tiba, yakni setelah
selesai melakukan serangan- nya di Parsi. Dia mendapat surat Khalifah
menyuruh lekas pindah ke Rumawi. Setelah tiba di situ dikumpulkannya
kepala-kepala perang dan diadakannya pidato yang berapi-api untuk
menaikkan semangat. Di antara ucapannya:Saya tahu bahwa kamu semua telah
dipecah- pecahkan oleh kemegahan dunia. Demi Allah! Sekarang
berhentikanlah itu, degarlah bicaraku! Hendaklah pimpinan tentera
disatukan, sehari si anu, sehari lagi si anu. Hari ini biar saya, besok
salah seorang di antara kamu. Orang-orang itu menerima.
Baru
saja tentera berada di bawah pimpinannya, sudah nampak alamat
kemenangan, sehingga besoknya tidak ada yang berani menggantikan lagi.
Begitulah kemenangan telah diperoleh di bawah pimpinan Khalid. Satu
cubaan besar datanglah kepada pahlawan itu seketika perang sangat
hebatnya. Surat datang dari Madinah, menyatakan bahwa Khalifah
Rasulullah yang pertama wafat. Sekarang yang memerintah ialah Umar,
bukan Abu bakar lagi. Khalid mesti berhenti memimpin peperangan,
digantikan oleh Abu Ubaidah. Surat itu disimpannya saja sampai
peperangan berhenti, takut tentera akan kacau.
Setelah
kalah musuh dan menang kaum Muslimin, barulah dia datang kepada Abu
Ubaidah, mengucapkan salam kepada Amirul- Jaisy (kepala tentera). Dan
dengan muka gagah segala pimpinan diserahkannya, dia tetap menjadi
seldadu biasa meneruskan per- tempuran ke tempat-tempat yang lain.
Seketika ditanyai orang, dengan megah pahlawan itu berkata: Saya
berperang bukan lantaran Umar! Laksana Basyir, pahlawan Ansar tempoh
hari itu pula mengatakan ahwa Ansar bertempur bukan mencari megah dunia!
Lebih dari 100,000 tentera Rumawi binasa waktu itu.
Wafatnya Abu Bakar
Pada
7 haribulan Jumadil Akhir tahun ketiga belas Hijrah, beliau ditimpa
sakit. Setelah 15 hari lamanya menderita penyakit itu, wafatlah beliau
pada 21 haribulan Jumadil Akhir tahun 13H, bertepatan dengan tanggal 22
Ogos tahun 634 Masihiyah. Lamanya memerintah ialah 2 tahun 3 bulan 10
hari. Dikebumikan di kamar Aisyah di samping makam sahabatnya yang mulia
Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam!. (ar/dkh)